Di Indonesia terutama di kota-kota besar, pemakaian AC sudah menjadi hal yang lumrah apalagi cuaca di Indonesia yang cenderung panas. Penggunaan AC ternyata memakai daya listrik yang cukup besar dan berefek pada tagihan listrik bulanan, terutama di rumah tangga. Pada umumnya kita membuat suhu ruangan semakin sejuk di musim panas, dan ternyata itu membuat tagihan listrik anda naik.
Ini karena pada saat suhu semakin dingin membuat ac bekerja semakin keras dan memakan daya listrik semakin banyak. Otomatis biaya listrik meningkat. Mari kita perkirakan seberapa banyak perbedaan daya dan biaya yang diperlukan bila ac disetting pada suhu 25°C dan 16°C.
AC 1 PK secara umum memakai daya 600-900 W tergantung suhu yang disetting. Apabila suhu disetting di 25°C maka daya yang digunakan minim yaitu 600 W. AC dinyalakan selama 10 jam/hari, maka untuk mendapatkan daya listrik dapat dirumuskan :
600 x 10 x 30/1000 = 180 kWh.
Anggap listrik rumah tangga pada umumnya adalah 2200V sehingga tarif = Rp 1.444,7/kWh.
Biaya : 180 x 1.444,7 = Rp 260.000
Dengan waktu yang sama kita ubah suhu menjadi 16°C. Karena suhu dingin maksimal membuat AC bekerja lebih keras sehingga daya yang dipakai lebih besar. Anggap daya yang dipakai 900W/jam. AC dinyalakan selama 10 jam/hari, maka untuk mendapatkan daya listrik dapat dirumuskan :
900 x 10 x 30/1000 = 270 kWh.
Anggap listrik rumah tangga pada umumnya adalah 2200V sehingga tarif = Rp 1.444,7/kWh.
Biaya : 270 x 1.444,7 = Rp 390.000
Didapatkan selisih sekitar Rp 130.000/bulan. Ini bukan gambaran pasti selisih yang ada di lapangan. Tapi cuma memberikan ilustrasi bila perbedaan settingan suhu AC bisa mempengaruhi biaya listrik bulanan anda. Tapi pastinya ada selisih yang cukup signifikan bila kita tidak memakai suhu yang terlalu rendah, apalagi jika anda menggunakan AC inverter. Jangan lupa untuk lakukan pembayaran setiap tagihan bulanan anda di loket-loket Griya Bayar terdekat anda.
031-5033335, 0811-31123335
0817-5003335
0812-18868914(WhatsApp)