close menu ppob griya bayar

button whatsapp

Apa Krisis Selat Hormuz Bisa Mempengaruhi Harga Tarif Listrik ?


ilustrasi meteran air

Perang Iran lawan Israel-USA yang berlangsung cukup lama membawa dampak yang kita semua sudah tahu yaitu penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Menyebabkan pasokan minyak ke seluruh dunia tersendat dan harga minyak dunia pun terkerek naik. Mengingat Indonesia juga ada pelanggan impor minyak mentah dan jumlahnya cukup besar, apakah pasti akan berpengaruh dalam kehidupan kita di Indonesia? Ketergantungan produk minyak bumi kita sangat tinggi selain untuk BBM, juga sebagai komponen produksi bidang lainnya. Salah satunya adalah listrik.


Namun dalam konteks Indonesia, dampaknya tidak selalu langsung dan juga tidak sebesar yang dibayangkan. Listrik nasional yang dikelola oleh Perusahaan Listrik Negara pada dasarnya tidak sepenuhnya bergantung pada minyak, karena sebagian besar pembangkit listrik masih menggunakan batu bara sebagai sumber energi utama, disusul oleh gas dan sebagian kecil energi terbarukan. Porsi penggunaan minyak dalam pembangkitan listrik relatif kecil, hanya sekitar lima persen atau bahkan kurang, dan umumnya digunakan untuk pembangkit diesel di daerah terpencil, cadangan saat beban puncak, serta kebutuhan operasional dan logistik.


ilustrasi benerin pipa

Sebagai ilustrasi, jika harga minyak naik dari sekitar 70 dolar menjadi 100 dolar per barel atau meningkat sekitar 43 persen, dampak langsung ke biaya produksi listrik hanya berasal dari porsi penggunaan minyak yang kecil tersebut. Perhitungan kasarnya menunjukkan bahwa kenaikan ini hanya menambah sekitar dua persen dari total biaya produksi listrik. Jika ditambahkan dengan dampak tidak langsung seperti kenaikan biaya transportasi dan potensi kenaikan harga energi lain, maka total kenaikan biaya produksi listrik diperkirakan berada di kisaran tiga hingga empat persen. Angka ini menunjukkan bahwa sistem kelistrikan Indonesia relatif lebih tahan terhadap fluktuasi harga minyak dibandingkan negara yang sangat bergantung pada bahan bakar minyak.


ilustrasi atap bocor

Kenaikan biaya produksi tersebut secara teoritis bisa mendorong kenaikan tarif listrik. Misalnya, jika tarif listrik rumah tangga non-subsidi berada di kisaran Rp1.444 per kWh, maka kenaikan biaya produksi sebesar tiga hingga empat persen dapat mendorong tarif menjadi sekitar Rp1.487 hingga Rp1.502 per kWh. Dalam praktiknya, dampak ini terhadap tagihan rumah tangga juga tidak terlalu besar. Untuk konsumsi listrik sekitar 300 kWh per bulan, kenaikan tarif tersebut hanya akan menambah tagihan sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 per bulan. Meskipun demikian, angka ini tetap bersifat ilustratif karena dalam kenyataan, tarif listrik di Indonesia tidak sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar.


Pemerintah memiliki peran besar dalam menentukan apakah kenaikan biaya tersebut akan dibebankan ke masyarakat atau tidak. Melalui skema subsidi, penyesuaian tarif berkala, serta kebijakan stabilisasi harga, kenaikan tarif listrik sering kali ditahan agar tidak memberatkan masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi. Selain itu, adanya subsidi silang juga membuat biaya produksi listrik yang mahal di daerah terpencil tidak langsung dibebankan kepada pelanggan, sehingga tarif listrik tetap relatif seragam secara nasional. Dengan demikian, meskipun kenaikan harga minyak dunia tetap memberikan tekanan terhadap biaya produksi listrik, dampaknya terhadap tarif yang dibayar masyarakat Indonesia cenderung terbatas dan sering kali tidak langsung terasa karena adanya intervensi kebijakan dari pemerintah.

hubungi kami

Helpdesk :

031-5033335, 0811-31123335
0817-5003335
0812-18868914(WhatsApp)

Ikuti kami :

info@griyabayar.com

aplikasi griya bayar sudah terdaftar di kominfo